perbedaan gunung dalam dan luar negeri

5 Perbedaan Mendaki Gunung di Indonesia dan Gunung di Luar Negeri

perbedaan gunung dalam dan luar negeri
perbedaan gunung dalam dan luar negeri

Menurut Info Tips & Trik Vlog Terbaru mendaki ialah aktivitas outdoor yang memerlukan ketahanan jasmani dan kesiapan mental yang mumpuni. Di samping harus bertahan hidup di alam bebas, pendaki pun harus mengeluarkan ongkos yang kadang tak tidak banyak untuk mengalirkan hobinya. Buat yang telah kerja sih nggak masalah ya nyiapin ongkos pendakian. Tapi bila yang masih sekolah, mahasiswa, atau baru saja lulus? Ya gunung-gunung terdekat yang jadi solusinya. Murah meriah dan dapat buat potret kece di puncaknya.

Tapi buat anda yang sudah berlalu (maksudnya berpengalaman) dengan gunung-gunung di Indonesia seperti Mahameru, Prau, Merapi sampai Rinjani, lebih baik tidak boleh berpuas diri. Memang sih gunung-gunung di Indonesia telah terkenal keindahannya. Tapi yakin bila di luar negeri sana tidak terdapat yang lebih indah? Jawabannya, banyak. Tinggal anda berani nggak menerima tantangan memanjat di gunung-gunung di luar negeri.

Buat anda yang tidak jarang mendaki, Travel akan jelasin 7 perbedaan sensasi memanjat gunung di Indonesia dan di luar negeri. Siapa tahu anda jadi tertarik memanjat ke sana. Hehehe.

1. perbedaan mendasar ialah tentang formalitas keselamatan. Gunung di luar negeri paling ketat dalam pengumpulan dan prosedur pemanjatan yang lumayan rumit. Nggak semudah di Indonesia…
Buat anda yang suka memanjat gunung-gunung seputaran Jawa Tengah maupun Jawa Timur, tidak bakal ada kendala berarti untuk memanjat gunung. Kamu lumayan datang ke basecamp pendakian. Menulis nama dan nomer HP, membayar ongkos pendakian yang lumayan murah. Lalu memanjat gunung sesukamu. Mau 2 hari, tiga hari atau seminggu di gunung, tidak masalah. Bebas. Sangat gampang untuk mengakses gunung.

Sementara di luar negeri, ambil misal Gunung Kinabalu Malaysia, anda harus susunan jauh-jauh hari ke pengelola yang notabene ialah swasta. Kumpulan online lagi. Kalau kuota harian yang hanya 100 orang sarat ya anda nggak dapat dapat izin. Kalau dua hari ya mesti dua hari, nggak boleh lebih. Sudah gitu, harganya mahal banget. Kamu juga akan dapat ID Card, dan bakal selalu diperiksa paspor dan ID Card anda selama pendakian. Jadi paling rumit, nggak semudah memanjat di Indonesia.

2. masalah sampah. Karena filternya lumayan ketat, maka minim sekali pendaki yang buang sampah sembarangan di luar negeri. Di Indonesia? Tau sendirilah…
Meskipun Nepal ialah negara yang lumayan semrawut, namun di trek pemanjatan Pegunungan Himalaya, baik Annapurna Base Camp, Everest Base Camp, dan lain-lain paling bersih. Jarang sekali kamu dapat menemukan sampah di sana. Banyak sekali lokasi sampah yang disediakan di tiap posnya. Sementara di gunung-gunung Indonesia, malah kamu dapat menemukan jalur trek pemanjatan yang benar andai mengikuti arah sampah. Pasti tersebut trek yang benar. Hehehe.

3. tiket masuk gunung di luar negeri ingin mahal. Kalau di Indonesia terdapat yang menengah tapi banyak sekali murah meriah…
Permit pemanjatan ke gunung-gunung luar negeri relatif mahal. Sebut saja Annapurna Nepal dapat menembus 500 ribu per pendaki. Itu belum ongkos penginapan dan santap di atas gunung. Atau Kinabalu di Malaysia dapat menyentuh 2 juta rupiah guna permit hingga penginapan satu malam di Laban Rata (penginapan sebelum ke puncak). Mahal memang, namun dengan bujet yang besar bakal menyortir pendaki yang ‘sembarangan’. Satu urusan lagi, fasilitasnya pun termasuk bagus banget. Jadi ongkos berbanding lurus dengan fasilitas.

Sementara pemanjatan gunung di Indonesia tergolong lumayan murah, sehingga kemudahan pun lumayan terbatas. Lima ribu hingga 10 ribu sudah dapat untuk memanjat gunung. Sehingga wajar bila semua orang (entah dapat ndaki atau enggak) ikut-ikutan tren memanjat gunung.

4. anda bicara kemudahan yang disediakan di gunung. Di luar negeri terdapat penginapan bahkan resto di atas gunung. Sementara di Indonesia, istirahat ya mesti buat tenda, santap ya mesti masak sendiri. Kalau perbekalan berakhir ya siap-siap aja bertahan hidup di alam bebas…
Di Kinabalu, masing-masing pendaki mesti memiliki guide meskipun anda tahu bahwa treknya paling jelas dan lumayan mudah. Ada sejumlah pos pengecekan untuk memeriksa ID Card kita. Makanan yang disediakan pun lumayan mewah dan berenergi. Ada penginapan yang berdiri gagah tepat di bawah puncak. Di depannya terdapat helipad guna mengevakuasi pendaki yang cedera atau tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sementara di Annapurna Base Camp, terdapat desa di tiap 2 jam pendakian. Di penginapan simpel itu, ada pun tempat santap dan kadang terdapat WiFI pun lho. Bedanya dengan Kinabalu, makanan dan penginapan di Annapurna terbilang lumayan murah. Nggak butuh bawa tidak sedikit barang ‘kan di keril kamu?

Ya cobain dulu aja. Kalau anda pulang dengan segar bugar ya anda hebat lah. Pendakian di trek naik turun sekitar 7 hari (Annapurna Base Camp) atau 14 hari (Everest Base Camp), lagipula ketemu trek yang sarat salju sekitar musim dingin, akan bikin jasmani kamu capek banget. Bisa-bisa kena AMS (Altitude Mountain Sickness) bila lagi nggak fit. Fasilitas bukan berarti menghilangkan sensasi pemanjatan tapi mempermudah pemanjatan dan meminimalisir resiko yang fatal, laksana kelaparan, sakit dst yang kesudahannya menghilangkan nyawa. Di Indonesia tidak jarang banget ‘kan pendaki meninggal hanya karena dalil sepele, nggak bawa baju hangat, nggak bawa makanan, atau nggak pernah naik gunung. Konyol banget ‘kan?

5. trek pemanjatan gunung di luar negeri banyak sekali sudah teratur dengan format tangga-tangga batu. Sementara di Indonesia banyak sekali masih tanah dan pasir, yang lebih menantang sekaligus berbahaya
Cobain deh sesekali ke luar negeri, anda pasti akan merasakan kesakitan tepat di lututmu. Hal ini disebabkan trek pendakian banyak sekali seperti anak tangga yang tersusun dari batu. Jadi sangat menganiaya dengkul. Sementara andai di Indonesia trek pemanjatan masih alami tanah atau pasir. Jadi licin bila hujan dan berdebu ketika kemarau. Kalau guna trek ini lebih bagus di Indonesia sebab masih alami. Cuma bila musim dingin seru banget memanjat di gunung bersalju. Dingin…

Nah, dari komparasi tersebut, jadi tertarik nggak memanjat gunung ke luar negeri? Kalau belum terdapat duit, nabung dari kini ya. Siapa tahu anda nanti ketagihan dan pengen jadi pendaki Seven Summit of The World! Siapa tahu ‘kan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *